Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Ummu Sulaim: Kisah Wanita yang Paling Mulia Maharnya


REPUBLIKA.CO.ID,  Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang wanita  yang cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Dialah Ummu Sulaim yang bernama lengkap Ruimasha' Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin 'Amir bin Ghanam bin 'Adie bin an-Najaar al-Anshariyah al-Khazrajiyah.
Berkat sifat-sifat yang agung,  Ummu Sulaim dilamar Maalik Ibnu Nadhar. Buah pernikahan keduanya lahirlah seorang anak bernama Anas. Ummu Sulaim termasuk orang yang masuk Islam dari kalangan Anshar.  Dengan penuh keyakinan, Ummu Sulaim tanpa ragu meninggalkan kebiasaan orang Jahiliyah dari menyembah berhala.
Tak mudah bagi Ummu Sulaim untuk memeluk Islam, agama yang paling benar dan diridhai Allah SWT. Suaminya adalah orang yang pertam menghadang laju keimanannya. Maalik sangat marah begitu isterinya telah masuk Islam. "Apakah engkau telah musyrik?" Ummu Sulaim menjawab dengan penuh keyakinan dan keteguhan, "Aku tidak musyrik tetapi aku telah beriman".
Ummu Sulaim membimbing anaknya, Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, "Katakanlah Laa Ilaaha Illallah, dan katakanlah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Lalu Anas melakukannya. Melihat keadaan itu, Maalik berkata kepada Ummu Sulaim: "Janganlah merusak anakku".
Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya aku tidak merusaknya akan tetapi aku mengajari dan membimbingnya."  Suatu ketika, Maalik pergi menuju Syam. Di dalam perjalanannya ia bertemu dengan musuhnya. dan  mati terbunuh. Mendengar kematian suaminya, ia  berkata, "Aku tidak akan memberi Anas makanan sampai ia meninggalkan musim susuku (ASI)."
Ia kemudian berkata lagi, "Aku tidak akan menikah sampai Anas dewasa.'' Kebaikan Ummu Sulaim diungkapkan Anas bin Maalik pada sebuah majelis, "Semoga Allah membalas jasa baik ibuku yang telah berbuat baik padaku dan telah menjagaku dengan baik." Ummu Sulain menyerahkan si jantung hatinya, Anas, sebagai pelayan di sisi seorang pengajar manusia dengan segala kebaikan, yakni Rasulullah SAW.
Lalu Rasulullah menyambutnya hingga sejuklah kedua mata Ummu Sulaim. Hari terus berganti. Orang-orang pun memperbincangkan Anas bin Malik dan ibunya dengan penuh kekaguman dan penghormatan. Kemuliaan dan kebaikan Ummu Sulaim terdengar di telinga Abu Thalhah, seorang hartawan di zaman itu.
Dengan  penuh cinta dan kekaguman sehingga ia berusaha untuk meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah pun melamar Ummu Sulaim dengan mahar yang mahal sekali. Namun, lamaran itu ditolak Ummu Sulaim.  "Tidak sepantasnya aku menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau mengetahui wahai Abu Thalhah, bahwa sesembahan kalian itu diukir oleh seorang hamba dari keluarga si Fulan. Sesungguhnya bila kalian menyalakan api padanya pastilah api itu akan membakarnya."
Terasa sempitlah dada Thalhah. Ia pun pergi dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Namun cintanya yang tulus  membuat Thalhah  kembali datang  dengan mahar yang paling istimewa.  Dengan harapan Ummu Sulaim bisa  luluh dan mau menerimanya.
Sebagai da'iah yang cerdas, Ummu Sulaim tak silau dengan harta, kehormatan, dan kegagahan. Lalu ia berkata  dengan santun, "Tidak pantas orang yang sepertimu akan ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku seorang Muslimah yang tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu."
Lalu Abu Thalhah berkata, "Itu bukan kebiasaanmu." Ummu Sulaim berkata, "Apa kebiasaanku?" Ia berkata, "Emas dan perak." Ummu Sulaim menjawab,"Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas dan perak, akan tetapi aku hanya inginkan darimu adalah 'Islam'."
Abu Thalhah lalu berkata, "Siapakah orang yang akan membimbingku untuk hal itu?" Ummu Sulaim berkata, "Yang akan mengenalkan hal itu adalah Rasulullah SAW." Pergilah Abu Thalhah menemui Nabi SAW. Ketika itu Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya.
Saat melihat Abu Thalhah, Nabi SAW bersabda, "Telah datang kepada kalian Abu Thalhah yang nampak dari kedua bola matanya semangat keislaman." Lalu Abu Thalhah datang dan mengabarkan apa yang telah dikatakan oleh Ummu Sulaim terhadapnya. Abu Thalhah pun ahkhirnya menikahi Ummu Sulaim dengan mahar yang telah dipersyaratkannya, yakni Islam.
Tsabit seorang perawi hadits berkata, dari Anas RA, "Tidaklah aku mendengar ada seorang wanita yang lebih mulia maharnya dari pada Ummu Sulaim yang mana maharnya adalah al-Islam."

Rabu, 07 Desember 2011

Astagfirullah.. Geng 'Muslim' Somalia Pukuli Wanita Kulit Putih


REPUBLIKA.CO.ID, LEICESTER - Kelakuan empat muslimah asal Somalia ini benar-benar tidak bisa diterima dan mencoreng citra Islam. Tanpa sebab apapun, mereka menyerang seorang wanita kulit putih, Rhea Page, dengan meneriakan 'bunuh pelacur putih'.
Kejadian ini bermula ketika Page (22) sedang menunggu taksi bersama sang kekasih, Lewis Moore (23), di pusat kota Leicester. Namun, geng 'Muslim Somalia' yang terdiri dari tiga saudara kandung dan satu saudara sepupu tiba-tiba datang menyerang Page. Mereka adalah Ambaro Maxamed (24), Ayan Maxamed (28), Hibo Maxamed (24), dan Nur Ifrah (28).
Page, yang tidak tahu apa-apa, langsung panik ketika geng tersebut menendang dirinya dari kepala, punggung, lengan hingga kaki. Rambut Page pun rontok akibat terkena jambakan. Sementara, Moore juga tak berdaya menghadapi serangan empat wanita Somalia tersebut.
Pengadilan menjatuhkan hukuman maksimum lima tahun penjara kepada keempatnya. Namun, hakim Robert Brown memberi mereka penangguhan hukuman setelah mendapat mitigasi bahwa keempatnya adalah Muslim sehingga tidak minum minuman alkohol.
Setelah hukuman dijatuhkan, Ambaro Maxamed menulis lewat akun Twitter-nya. ''Senang... aku jadi akan keluar. Hari ini telah seperti hari besar.''
Rasial
Page mengaku dirinya tidak hanya mendapat serangan fisik. Tapi, dia juga mendapat serangan psikis berupa lontaran kata-kata hinaan yang menjijikan.
"Saya benar-benar berpikir mereka menyerang saya hanya karena saya putih. Saya tidak bisa memiliki alasan lain,'' kata Page menceritakan insiden pengeroyokan yang terjadi pada Juni tahun lalu tersebut. ''Mereka terus berteriak 'jalang putih' dan 'pelacur putih' pada saya.''
Page pun mendapat serangan fisik secara bertubi-tubi. Salah satu dari mereka menjambak rambut Page kemudian melemparkannya ke tanah.
"Mereka bergantian menendang saya berulang-ulang. Saya pikir mereka akan membunuhku,'' kenang Page.
Page dirawat karena mengalami luka memar cukup parah. Dia hingga kini masih menjalani terapi karena mengalami trauma serangan.
Ironinya, tak satu pun dari para terdakwa didakwa dengan penyerangan rasial. Bahkan, hukuman keempatnya ditunda lantaran mereka tidak mungkin melakukan penyerangan di bawah pengaruh alkohol. Karena, mereka adalah Muslim yang dilarang untuk minum minuman keras.
Page menyesalkan alasan tersebut. ''Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan pengeroyokan karena bukan alasan minum alkohol. Jika mereka tidak seharusnya minum minuman keras, maka mereka seharusnya tidak keluar bar pada waktu malam.''

Ayah… Aku Butuh Waktumu


Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama akan kedatangan ayahnya pulang kerja.



"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja."

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan

dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.

Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"



Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.



"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam

ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi.



Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian,

Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"



"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?

Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."



"Tapi, Ayah..."



Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.

didapatinya Imron sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.



Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih."



"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama satu minggu ini."

"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.

"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.

Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos.



Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat, air matanya mengalir deras, menyesali segala ketidakberdayaannya.

Sahabat ……. betapa setiap detik kasih sayang Allah telah kita rasakan, sesungguhnya adalah kita diperintah untuk membagi kasih sayang itu kepada orang-orang yang terdekat dengan kita, kepada orang-orang yang kehilangan kasih sayang dan kepada seluruh makhluq di muka Bumi ini, sebagai wujud manifetasi tugas kita sebagai Wakil Allah di muka Bumi.



Sahabat……, andai tugas yang membuat kita menjadi sering meninggalkan buah hati kita, maka jangan sampai lupa disetiap lelah dan dahaga kita selipkanlah do’a untuk sang buah hati kita, terutama disetiap usai kita beribadah dalam bentuk apapun.

"Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqan: 74)



Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. at-Taghabun: 15)



Bilamana manusia telah meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: (1) sedekah jariah; (2) ilmu yang bermanfaat; (3) anak shalih yang mendoakannya. (HR al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

sumber : QUR'ANIC MOTIVATION